Senin, 19 Desember 2011

Manajemen Keperawatan

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Pelayanan bidang kesehatan yang dibutuhkan masyarakat semakin meningkat. Termasuk di dalamnya pelayanan kesehatan bidang medis, dan perawatan. Perkembangan profesi dan tuntutan global memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memeprhatikan setiap perubahan yang terjadi. Manajemen merupakan suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam menjalankan suatu kegiatan di organisasi. Dimana didalam suatu manajemen tersebut mencakup kegiatan koordinasi dan supervisi terhadap staf, sarana dan prasarana dalam mencapai tujuan organisasi (Grant dan massay, 1999). Manajemen juga sebagai suatu organisasi bisnis yang memfokuskan pada produksi dalam banyak hal lain untuk menghasilkan suatu keuntungan. Manajemen keperawatan di Indonesia pada masa yang akan datang perlu mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan keperawatan di masa depan. Karena sebagaimaan kita diketahui bahwa sistem pelayanan kesehatan mengalami perubahan mendasar dalam memasuki abad 21 ini. Perubahan tersebut sebagai dampak dari perubahan sosial, politik, ekonomi. Kependudukan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari ketiga perubahan tersebut membawa implikasi terhadap perubahan harapan meningkatnya mutu sistem pelayanan kesehatan atau keperawatan dan sebagai tantangan bagi tenaga keperawatan di Indonesia dalam proses menuju profesionalisme. Keperawatan di Indonesia sampai saat ini masih berada dalam proses mewujudkan keperawatan sebagai profesi, yaitu suatu proses berjangka panjang yang ditujukan untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Upaya pengembangan dalam berbagi aspek keperawatan bersifat saling berhubungan, saling tergantung, saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Oleh karenaitu inovasi dalam pendidikan keperawatan dan pengembangan praktik keperawatan adalah merupakan fokus utama keperawatan Indonesia dalam proses profesionalisme. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang perawat adalah kemampuan untuk mengelola baik dalam bidang keperawatan maupun bidang lain sebagai bagian dari bidang keperawatan yang terintegrasi. Manajemen keprawatan mempunyai ruang lingkup manajemen operasional yang meliputi merencanakan, mengatur dan mengarahkan para pelaksana perawatan dalam memberikan pelayanan keperawatan yang terbaik bagi pasien pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Peran dan fungsi manajemen keperawatan pada masa sekarang masih berorientasi pada sentralisasi kewenangan, demikian halnya yang terjadi di badan RSUD Dr. M. Ashari Pemalang Berdasarkan hal diatas maka mahasiswa STIKES Kendal program Pendidikan Profesi Ners berminat belajar bersama tentang manajemen keperawatan di RSUD Dr. M. Ashari Pemalang khususnya di ruang Rajawali. B.Tujuan 1.Tujuan Umum Setelah melakukan praktik klinik manajemen keperawatan selama 4 minggu diharapkan mahasiswa mampu menerapkan konsep dan langkah manajemen keperawatan. 2.Tujuan Khusus a.Melakukan pengkajian tentang keadaan ruang perawatan untuk menemukan masalah-masalah yang ada. b.Mengidentifikasi masalah keperawatan yang terkait dengan pelayanan keperawatan maupun asuhan keperawatan. c.Menyusun analisa SWOT dan menyusun prioritas masalah sesuai dengan kebutuhan ruangan. d.Menyusun perencanaan untuk menyelesaikan masalah yang ditemukan berdasarkan prioritasnya. e.Melaksanakan atau mengimplementasikan rencana yang telah disusun. f.Mengevaluasi hasil kegiatan yang dilakukan. C.Manfaat 1.Untuk Mahasiswa Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman dengan menerapkan teori manajemen secara langsung. 2.Untuk rumah sakit Sebagai bahan masukan untuk perencanaan manajemen asuhan keperawatan dimasa yang akan datang. D.Sasaran Perawat ruang rajawali pada khususnya dan perawat RSUD Dr. M. Ashari Pemalang pada umumnya. E.Waktu Pembelajaran praktik klinik manajemen keperawatan ini dilaksanakan pada tanggal 21 November sampai 17 Desember 2011. BAB II TINJAUAN TEORI A. Data gathering Data gathering adalah suatu kegiatan pengumpulan data yang merupakan kegiatan pertama dilakukan dalam penetapan prioritas masalah, sedangkan data adalah hasil dari suatu pengukuran dan pengamatan (Nasution. 2001) Dalam melakukan pengumpulan data ada berbagai cara diantaranya dengan cara study pustaka, study dokumentasi, wawancara dengan klien dan keluarga, diskusi dengan perawat, dokter dan praktikan lain. B. Planning Planning atau perencanaan dimaksudkan untuk menyusun suatu perencanaan yang startegis dalam mencapai suatu tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Perencanaan disini dimaksudkan untuk menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan kepada semua pasien, menegakkan tujuan, mengalokasikan semua anggaran belanja, memutuskan ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan, membuat pola struktur organisasi yang dapat mengoptimalkan efektifitas staff serta menegakkan kebijakan dan prosedur operasional untuk mencapai visi dan misi institusi yang telah ditetapkan (Nursalam, 2002). Dalam menentukan perencanaan yang baik maka harus meperhatikan hal – hal sebagai berikut : 1. Mempermudah tercapainya tujuan organisasi 2. Dibuat oleh orang – orang yang sungguh – sungguh memahami tujuan organisasi 3. Dibuat oleh orang – orang yang sungguh – sungguh memahami teknik – teknik perencanaan 4. Disertai oleh suatu perincian yang teliti 5. Tidak boleh terlepas dari pemikiran pelaksanaan 6. Bersifat sederhana 7. Bersifat luwes 8. Terdapat tempat pengambilan resiko 9. Bersifat praktis 10. Merupakan perkiraan atas kejadian yang mungkin terjadui C. Organizing 1. Struktur organisasi Masing – masing organisasi memiliki struktur formal dan informal yang menentukan alur kerja dan hubungan timbal balik antar pribadi. Struktur formal direncanakan dan dipublikasikan, struktur informal tidak direncanakan dan samar. Seorang manajer perawatan harus mengerti dan memakai keduanya secara efektif. Struktur formal organisasi merupakan penyusunan resmi jabatan kedalam pola hubungan kerja yang akan mengatur usaha banyak pekerja dari bermacam – macam kepentingan dan kemauan. Struktur informal organisasi terdiri dari hubungan timbal balik pribadi yang tidak resmi diantara para pekerja yang mempengaruhi efektifitas kerja mereka. Kualitas hubungan timbal balik seorang manajer dengan lainnya langsung dikaitkan dengan kemampuan kepemimpinannya. Mengingat struktur formal dan informal organisasi saling melengkapi, manajer perawat bisa memakai struktur organisasi informal untuk mengganti kerugian karena kekurangan atau kegagalan dalam struktur formal. 2. Job diskription Merupakan suatu uraian pembagian tugas sesuai peran yang ia jalankan misalnya seorang kepala ruang maka tugas dan tanggung jawabnya menetapkan standart kinerja staf sebagai nara sumber bagi katim, jadi antara satu dengan yang lainnya mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda sesuai dengan perannya (Wijono Joko, 1997). 3. Metode penugasan Metode penugasan yang ditetapkan harus dapat memudahkan pembagian tugas perawat yang disesuaikan dengan pengetahuan dan ketrampilan perawat dan sesuai dengan kebutuhan klien. Apabila penugasan tidak ditetapkan maka pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien menjadi tidak optimal (Ratna Sitorus, 2002). Jenis model asuhan keperawatan menurut Grant dan Massey, 1997 dan Marquis dan Houston, 1998 antara lain : a) Model fungsional Model fungsional adalah pengorganisasian tugas pelayanan yang didasarkan kepada pembagian tugas menurut jenis pekerjaan yang dilakukan (Deann. Gilles, 1996). Keuntungan model fungsional antara lain perawat terampil untuk tugas atau pekerjaan tertentu, mudah memperoleh kepuasan kerja, kepala ruang mudah mengawasi, kekurangan tenaga ahli dapat mudah terganti. Kerugian model fungsional antara lain pelayanan keperawatan terpilah – pilah, pekerjaan selesai perawat meninggalkan pasien, pekerjaan mengerjakan tindakan nonkeperawatan, kesuluruhan kerja sulit dicapai, dan asuhan keperawatan sebagai ketrampilan saja. b) Model tim Model tim adalah pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat pada sekelompok klien yang dipimpin oleh register nurse serta kepala tim sebagai penanggung jawab, mengarahkan, menerima laporan perkembangan klien (Deann. Gilles, 1996). Keuntungan model tim antara lain memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif, memungkinkan penerapan proses keperawatan, konflik dan perbedaan pendapat antar staf ditekan melalui konfren, memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal, memungkinkan penyatuan kemampuan anggota tim yang berbeda – beda dengan aman dan efektif. Kerugian model tim antara lain kelancaran tugas terhambat oleh konfren, perawat yang belum terampil dan berpengalaman selalu tergantung pada anggota tim yang mampu dan kepala tim, akontabilitas tim kabur. c) Model primer Model primer adalah pengorganisasian asuhan keperawatan oleh satu orang register nurse sebagai perawat primer yang bertanggung jawab dalam asuhan keperawatan selama 24 jam kepada klien dari masuk sampai pulang (Deann. Gilles, 1996). Keuntungan model primer antara lain model praktek keperawatan professional dapat dilakukan, memungkinkan asuhan keperawatan yang komprehensif, memungkinkan penerapan proses asuhan keperawatan, memberikan kepuasan kerja perawat dank klien. Kerugian model tim antara lain hanya dapat dilakukan perawat professional, biaya relative lebih tinggi. d) Manajemen kasus Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan 1 pasien 1 perawat. Dalam hal ini umumnya dilakukan untuk perawat privat atau perawatan khusus seperti isolasi dan intensif care (Deann. Gilles, 1996). Hal – hal yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan pemilihan metode pemberian askep (Marguis dan Houston, 1998) yaitu : 1. Sesuai dengan visi dan misi institusi 2. Dapat diterapkan proses keperawatan dalam asuhan keperawatan 3. Efisien dan efektif dalam penggunaan biaya 4. Terpenuhinya kepuasan klien keluarga dan masyarakat 5. Kepuasan kerja perawat 6. Terlaksananya komunikasi yang adekuat antara perawat dan tim kesehatan lainnya. D. Actuating 1. Motivasi Motivasi adalah karakteristik psikologi manusia yang memberi konstribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk factor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu (Swansburg Rusel C, 2000). Motivasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu (Ngalim, 2000). Menurut bentuknya motivasi dibagi menjadi 3 yaitu : a. Motivasi intrinsik adalah motivasi atau dorogan yang berasal dari dalam diri sendiri. b. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi atau dorogan yang berasal dari luar atau lingkungan. c. Motivasi terdesak adalah motivasi atau dorogan yang berasal dari karena adanya suatu kiebutuhan yang mendadak atau mendesak. 2. Sistem klasifikasi pasien System klasifikasi pasien adalah metode pengelompokan pasien menurut jumlah dan kompleksitas persyaratan perawatan mereka (Deann. Gilles, 1996). Didalam kebanyakan system klasifikasi, pasien dikelompokan sesuai dengan ketergantungan mereka pada pemberi perawatan atau sesuai dengan waktu pemberian perawatan dan kemampuan yang diperlukan untuk memberikan perawatan. Tujuan setiap system klasifikasi pasien adalah untuk mengkaji pasien dan menghargai masing – masing nilai angkanya yang mengukur volume usaha yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan perawatan pasien. Untuk dapat mengembangkan system klasifikasi pasien yang akan dijalankan, manajer perawat harus menentukan jumlah kategori pembagian pasien. Karakteristik pasien dimasing – masing kategori, jumlah dan jenis prosedur perawatan yang akan dibutuhkan oleh jenis pasien didalam masing – masing kategori, dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan prosedur tersebut, memberikan dukungan emosional serta memberikan pengajaran kesehatan kepada pasien masing – masing kategori karena tujuan system klasifikasi pasien adalah menghasilkan informasi mengenai perkiraan beban kerja keperawatan, masing – masing system membolehkan usaha klasifikasi waktu. 3. Ketenagaan keperawatan dan pasien Pada suatu pelayanan professional, jumlah tenaga yang diperlukan tergantung pada jumlah pasien dan derajat ketergantungan pasien. Menurut Douglas (1984), Loveridge dan Cummings (1996), klasifikasi derajat ketergantungan pasien dibagi menjadi 3 kategori yaitu : a. Perawatan minimal yaitu perawatan yang memerlukan waktu 1 – 2 jam / 24 jam. b. Perawatan intermediet yaitu perawatan yang memerlukan waktu 3 – 4 jam / 24 jam. c. Perawatan maksimal atau total care yaitu perawatan yang memerlukan waktu 5 – 6 jam / 24 jam. Dalam suatu penelitian Douglas (1975), tentang jumlah tenaga perawat di rumah sakit didapatkan jumlah perawat yang dibutuhkan pada dinas pagi, sore, malam sesuai dengan tingkat ketergantungan pasien. 4. Penjadwalan Penjadwalan adalah suatu aspek dari fungsi kepegawaian. Kepegawaian adalah perhimpunan dan persiapan pekerja yang dibutuhkan untuk melakukan misi dari sebuah organisasi. Jadi penjadwalan adalah penentuan pola jam kerja masuk dan libur mendatang untuk pekerja dalam sebuah unit, seksi atau divisi (Nursalam M.Nurs, 2002). Agar supervisor dan kepala perawat dapat mengatur jadwal personil yang libur dan masuk secara adil harus ada departemen atau divisi luas kebijaksanaan penjadwalan untuk memandu pembuatan keputusan apabila kebijaksanaan menyangkut persoalan berikut tidak ada, maka manajer perawat harus bersatu sebagai sebuah kelompok untuk menyusun : a. Orang dengan jabatan yang bertanggung jawab mempersiapkan jadwal waktu untuk personil dimasing – masing unit. b. Periode waktu untuk diliputi oleh masing – masing jadwal masuk / libur. c. Banyaknya pemberitahuan dimuka yang diberikan para pekerja menyangkut jadwal masuk / libur. d. Waktu masuk / lbir total yang diperlukan oleh masing – masing pekerja / hari, minggu, bulan. e. Hari dimulainya minggu kerja. f. Dimulainya dan diakhirinya waktu untuk masing – masing pergiliran tugas. g. Jumlah pergiliran yang harus dipergilirkan diantara masing – masing pekerja. h. Frekuensi yang diperlukan dari pergiliran pergantian. i. Keperluan pergiliran dari datu unit ke unit yang lain dan frekuensi pergiliran tersebut. j. Keperluan penjadwalan 2 hari libur per minggu. k. Frekuensi libur akhir pekan untuk masing – masing kategori personil. l. Perlunya perluasan hari libur berurutan dan yang tidak berurutan. m. Hari kerja berurutan maksimum yang diperbolehkan. n. Jarak waktu miminum yang diharuskan antara urutan pergantian tugas. o. Jumlah hari libur yang dinayar untuk diberikan pada masing – masing pekerja. p. Jumlah hari libur yang diharuskan pertahun saat pegawai dijadwalkan libur kerja. q. Panjangnya pemberitahuan dimuka untuk diberikan pegawai mengenai jadwal tugas, liburan. r. Prosedur yang harus diikuti dalam meminta libur kerja pada hari libur tertentu. s. Pembatasan pada penjadwalan liburan selama hari libur natal, tahun baru dan hari raya. t. Jumlah personil masing – masing kategori yang akan dijadwalkan untuk liburan atau hari libur pada saat tertentu. u. Prosedur penyelesaian perselisihan antar personil sehubungan dengan permintaan waktu liburan dan hari libur. v. Prosedur pemprosesan permintaan darurat untuk penyesuaian jadwal tertentu. Tanggung jawab penjadwalan Biasanya supervisor atau kepala perawat bertanggung jawab untuk menjadwalkan masuk / libur personil keperawatan. Karena jadwal kerja harus dipersiapkanbeberaa minggu sebelummnya, dan selanjutnya diperbaiki untuk penyesuaian perubahan didalam sensus pasien, keadaan pasien yang sakit, permintaan libur yang darurat, bvanyak waktu yang berkaitan dengan kegiatan supervisi diluangkan dalam mempersiapkan dan menyesuaikan jadwal waktu. 5. Pengembangan Staff Program pendidikan dan pelatihan dirancang untuk meningkatkan prestasi kerja, mengurangi absensi dan perputaran serta memperbaiki kepuasan kerja. Ada beberapa metode pendidikan dan latihan yang akan digunakan untuk meningkatkan prestasi kerja (Moenir, 1994). a. Metode seminar atau konferensi Biasanya diselenggarakan bagi pegawa yang menduduki jabatan sebagai kepala atau pegawai yang dalam waktu singkat akan diserahi jabatan sebagai kepala. Masalah – masalah baik yang menyangkut segi manajemen maupun penyelenggaraannya atau proses dari kegiatan yang dipermasalahkan. b. Metode lokakarya (Workshop) Penyelenggaraannya tidak jauh berbeda dengan seminar, letak perbedaannya dengan seminar adalah pada materinya. Pada materi lokakarya bersifat teknis, administratif dan sedikit bersifat manajerial. c. Metode sekolah atau kursus Metode ini digunakan sebagai usahamemberikan informasi adanya aturan – aturan atau hal – hal baru dalam organisasi yang harus dimengerti dan dilaksanakan oleh peserta. Metode ini juga digunakan untuk menambah pengetahuan baru bagi peserta yang ada kaitannya dengan pekerjaan peserta. Pada akhir sekolah atau kursus, biasanya diberikan ujian – ujian dengan atau tanpa kriteria kelulusan. d. Metode belajar sambil bekerja (Learning by doing) Pada metode ini latihan ketrampilan menjadi tujuan utama sehingga mereka dapat menguasai teknik dalam melaksanakan pekerjaan yang diberikan kepada mereka. Biasanya metode ini dilakukan oleh atasan pada bawahan secara langsung dalam membimbing pegawai kantor. Dalam prakteknya metode pendidikan dan latihan ini disesuaikan dengan pertimbangan tujuan, fasilitas yang tersedia, biaya, waktu, dn kegiatan instansi lainnya. E. KONTROLLING 1. Definisi Kontrolling merupakan suatu upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, obyektif dan terpadu dalam menetapkan penyebab masalah mutu pelayanan berdasarkan standart yang telah ditetapkan, menetapkan dan melaksanakan cara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia, serta menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu (Nursalam M.Nurs. 2002). Fungi pengawasan (Controlling) merupakan fungasi yang terakhir dari proses manajemen. Fungsi ini mempunyai kaitan erat dengan ketigha fungsi manajemen lainnya, terutama dengan fungsi pereencanaan. Melalui fungsi pengawasan dan pengendalian, standart keberhasilan (Target prosedur kerja, dll) selalu dibandingkan dengan hasil yang elah dicapai atau yang mampu dikerjakan. Jika ada kesenjangan atau penyimpanngan diupayakan dalam penyimpangannya dapat dideteksi secara dini dicegah, dikendalikan atau dikurangi. Kegiatan fungsi pengawasan dan pengendalian bertujuan agar efisiensi penggunaan sumber daya dapat lebih berkembang dan efektifitas tugas – tugas staf untuk mencapau tujuan program dapat lebih terjamin. 2. Prinsip dasar pengawasan a. Adanya perencanaan yang baik b. Adanya instruksi atau perintah serta wewenang terhadap bawahan c. Dapat merefleksikan berbagai sifat dan kebutuhan dari kegiatan yang diawasi d. Dapat segera dilaporkan adanya berbagai bentuk penyimpangan e. Harus bersifat fleksibel, dinamis dan ekonomis f. Dapat menjamin diberlakukannya tindakan korektif 3. Teknik controlling / pengawasan Dalam melakukan pengawasan diperlukan berbagai teknik diantarana sebagai berikut : a. Pengawasan yang menitikberatkan pada hal – hal yang menyolok penyimpangannya (Control by exception) b. Pengawasan yang menitikberatkan pada pengendalian dalam pengeluaran (Controll through cost) c. Pengawasan yang menitikberatkan pada orang – orang yang dipercaya (Controll through key person) d. Pengawasan yang menitikberatkan pada waktu yang digunakan (Controll through time) e. Menjalankan suatu rangkaian pemeriksaan / verifikasi / audit secara sistematis (Controll through audits) 4. Macam – macam pengawasan a. Dari sudut subyek yang diawasi meliputi pengawasan internal dan ekternal, pengawasan secara langsung atau tidak langsung, pengawasan formal atau tidak formal, pengawasan staff. b. Dari sudut obyek yang diawasi meliputi pengawasan material dan produk (kualitas materi, jumlah produk, penyimpangan barang), keuangan dan biaya (anggaran dan pelaksanaannya, biaya yang dikeluarkan, pendapatan dan pengeluaran), waktu (penggunaan waktu, kecepatan dan pemberian waktu), personalia (kejujuran, tingkah laku, kesetiaan, kerajinan dan solidoritas). c. Dari sudut waktu pengawasan meliputi pengawasan preventif yaitu pengawasan yang dilakukan sebelum terjadinya penyimpangan atau kesalahan, dan pengawasan represif yaitu pengawasan yang dilakukan sesudah terjadinya penyimpangan. d. Dari sudut system pengawasan meliputi inspektif dugunakan untuk mengetahui sendiri keadaan sebenarnya, komparatif untuk membandingkan antara hasil dengan rencana, verifikatif yaitu pengawasan yang dilakukan oleh staff, investigative yaitu membongkar terjadinya penyelewengan. 5. Peran leadhership dalam controlling a. Mendorong staf untuk aktif terlibat dalam pengawasan b. Mengkomunikasikan secara jelas standart yang diharapkan terhadap staf c. Mendorong atau memotivasi standart tertinggi untuk kualitas yang maksimal dengan menyediakan standart keamanan minimum d. Mengimplementasikan pengawasan mutu secara proaktif serta reaktif e. Menggunakan pengawasan sebagai metode untuk menentukan mengapa tujuan tersebut tidak dapat dicapai f. Secara aktif mensyahkan hasil pengawasan mutu yang ditemukan yang mempunyai kesatuan profesi dan konsumen g. Menghargai antara standart klinis dengan standart menggunakan sumber – sumber yang menyakinkan pasien untuk menerima perawatan yang diharapkan h. Bertindak sebagai role model terhadap staf untuk menerima tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap tinadakan keperawatan i. Secara aktif berpartisipasi dalam usaha – usaha penelitian untuk mengidentifikasi dan mengukur sensitifitasd keperawatan sebagai hasil pelayanan pasien 6. Manfaat controlling Apabila fungsi controlling dapat dilaksanakan secara tepat, organisasi akan memperoleh manfaat sebagai berikut : a. Dapat diketahui apakah suatu kegiatan atau program telah dilaksanakan sesuai dengan standart atau rencana kerja dengan menggunakan sumber daya yang telah ditetapkan b. Mencegah terjadinya berbagai penyimpangan atau kesalahan dalam organisasi c. Untuk memperbaiki berbagai penyimpangan atau kesalah yang terjadi dalam organisasi d. Dapat mengetahui berbagai penyebab terjadinya penyimpangan dalam organisasi e. Meningkatkan dan mempertahankan rasa tanggung jawab dalam organisasi BAB III PENGKAJIAN A. Sejarah berdirinya RSUD Dr. M. Ashari Pemalang. RSUD Dr. M. Ashari berlokasi awal di Jalan Ketandan 12 Pemalang dengan nama RSU Pemalang, merupakan RSU kelas "D" dengan 76 tempat tidur sampai dengan tahun 1982. Tahun 1979/1980 Pemda mendirikan Rumas Sakit baru di Jl. Gatot Subroto Bojongbata Pemalang di atas tanah seluas 4,7 Ha. yang sekarang menjadi lokasi RSUD Dr. M. Ashari, dengan sumber dana APBD II, APBD I dan Swadaya dan pada tahun 1982 RSU mulai beroperasional. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 233/Menkes/S.K/VI/1983 tentang Penetapan Tambahan Beberapa Rumah Sakit Umum Pemerintah Sebagai Rumah Sakit Umum Pemerintah Kelas B dan C maka pada tahun 1983 Badan RSUD Dr. M. Ashari Pemalang meningkat dari Kelas “D” menjadi Kelas “C”. B. Visi RSUD Dr. M. Ashari Pemalang RSUD Dr. H M. Ashari Pemalang mempunyai visi, yaitu : Terwujudnya RSUD Dr. M. Ashari yang Bermutu, Terjangkau dan Merata untuk Semua. C. Misi RSUD Dr.M. Ashari Pemalang Misi RSUD Dr. M. Ashari Pemalang adalah : 1. Memberikan Pelayanan sesuai Standar dan Sumber Daya yang ada. 2. Sebagai Pusat Pelayanan dan Rujukan. 3. Terus Berkembang Selaras dengan Kemajuan Iptek dan Kebutuhan Masyarakat. 4. Sebagai Sarana Peningkatan dan Pengembangan Kualitas SDM di Bidang Kesehatan. D. Kepemilikan dan Kelas RSUD Dr. M. Ashari Pemalang Status Rumah Sakit : Milik Pemerintah Kabupaten Pemalang Nama Rumah Sakit : RSUD Dr. M. Ashari Pemalang No. Kode : 3327010 Alamat : Jl. Gatot Subroto No.41 Pemalang 52319 Telp. / Fax. : (0284) 321614 / (0284) 323664 E-mail : rsu@pemalangkab.net hRajawalitono@yahoo.com Kabupaten : Pemalang Propinsi : Jawa Tengah Kelas/Type : C Kapasitas TT : 248 TT Luas Tanah : 4,7 Ha Luas Bangunan : 13.730 m2 Jenis Pelayanan Jenis pelayanan yang dimiliki Badan RSUD Dr. M. Ashari Pemalang antara lain : a. Instalasi Gawat Darurat, b. Instalasi Rawat Jalan, c. Instalasi Rawat Inap, d. Instalasi Laboratorium, e. Instalasi Radiologi, f. Instalasi Farmasi, g. Instalasi ICU, h. Instalasi Bedah Sentral, i. Instalasi Sterilisasi Sentral, j. Instalasi Rehabilitasi Medik, k. Instalasi Gizi, l. Instalasi Pemulasaraan Jenazah, m. Instalasi Pengelolaan Linen, n. Instalasi Haemodialisa, o. Instalasi Pendidikan dan Pelatihan, p. Instalasi Kesehatan Reproduksi, q. Instalasi Pemeliharaan Sarana Medis, r. Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit, s. Instalasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit , t. Instalasi Pengelolaan Limbah dengan luas tanah 44.780 m2 dan luas bangunan 8.624 m2 E. Tugas dan Fungsi RSUD Dr. M. Ashari RSUD Dr. M. Ashari Pemalang sebagai unsur Penunjang Pemerintah Kabupaten Pemalang mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam penyelenggaraan Pemerintah Daerah di bidang kesehatan melalui : 1. Pelaksanaan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi, terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan di lingkungan Rumah Sakit sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 2. Melaksanakan pelayanan yang bermutu sesuai Standar Pelayanan Rumah Sakit. Dalam menyelenggarkan tugas pokok tersebut, RSUD Dr. M. Ashari Pemalang mempunyai fungsi : a. Merumuskan kebijakan teknis di bidang pelayanan kesehatan perumahsakitan; b. Memberikan pelayanan perumahsakitan yang meliputi : b.1. Pelayanan Medis; b.2. Pelayanan Penunjang Medis; b.3. Pelayanan Penunjang Non Medis; b.4.Pelayanan dan Asuhan Keperawatan; b.5. Pelayanan Rujukan; b.6. Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan; b.7. Pelaksanaan Penelitian dan Pengembangan; b.8. Pelaksanaan Administrasi dan Keuangan. F. Struktur Organisasi RSUD Dr. M. Ashari Susunan Organisasi RSUD Dr. M. Ashari Pemalang terdiri dari : 1. Direktur 2. Bagian Tata Usaha, terdiri dari : 1) Subbagian Perencanaan dan Anggaran; 2) Subbagian Kepegawaian; 3) Subbagian Umum. 3. Bidang Pelayanan, terdiri dari : 1) Seksi Pelayanan Medis dan Rekam Medis; 2) Seksi Keperawatan. 4. Bidang Penunjang, terdiri dari : 1) Seksi Penunjang Medis dan Non Medis; 2) Seksi Pengembangan Mutu dan Pengolahan Data. 5. Bidang Keuangan, terdiri dari : 1) Seksi Perbendaharaan dan Verifikasi; 2) Seksi Akuntansi. 6. Kelompok Jabatan Fungsional G. Analisa Situasi Ruang Rajawali 1. Data Gathering Lokasi penerapan proses manajerial keprawatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran manajemen, keperawatan, mahasiswa program studi ilmu keperawatan Kendal adalah ruang Rajawali (RSUD Dr. M. Ashari Pemalang dengan ruang berkapasitas 14 tempat tidur. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan tanggal 24 -25 November 2011 tercatat data sebagai beikut : a) Lokasi dan Denah Ruangan Lokasi yang digunakan dalam penerapan proses manajerial adalah ruang Rajawali RSUD Dr. M. Ashari Pemalang dengan batas-batas sbb : Timur : R. CSSD Barat : Sawah Selatan : R. IPKR Utara : R. IPAL b) Fasilitas Untuk Pasien 1. Tempat Tidur Berjumlah 14 bed 2. Fasilitas ruangan Bed, lemari meja, lemari, AC, TV, kamar mandi, meja Makan, sofá, washtafel, cermin dan Kulkas. c) Fasilitas untuk Petugas kesehatan 1. Ruangan untuk nurs station Terletak di antara R. 1 dan R. 14 2. Kamar Mandi dan WC Terletak di antara R. Dokter dan R. Bayi 3. Gudang Terletak di antara R. 8 dan R. 9 4. Ruang Alat Terletak di antara R. Administrasi dan R. Dapur 5. Ruang Kepala Ruang Terletak di sebelah barat ruangan nurse station 6. Ruang Dokter Terletak di samping R. Tindakan d) Fasilitas Peralatan dan Bahan Kesehatan 1. Alat yang tidak habis pakai No. Nama Inventaris Jumlah 1 EKG 2 2 Tensi Digital 1 3 Tensi Raksa 2 4 Stetoskop Dewasa 4 5 Stetoskop Anak 5 6 Trally emergency 1 7 Sterilisator 1 8 Brankart 1 9 Kursi Roda 2 10 Bengkok Besar 10 11 Pemadam kebakaran 1 12 Termometer 15 13 Tong Spatel 2 14 Komterbuka & tertutup 9 15 Pispot Urinal 15 16 Waskom cuci tangan 16 17 Standar cuci tangan 17 18 Standar infus 27 19 Gunting Verband 2 20 Gunting Heating Aff 1 21 Pinset anatomis 4 22 Pinset Sirurgis 6 23 Korentang 2 24 Almari alat 1 25 Almari obat 3 26 Lampu tindakan 1 27 Manometer 6 28 Kunci Inggris 29 Es Crag 3 30 WWZ 7 31 Nebulizer 1 32 Ambubas dewasa / anak 33 O2 kecil 1 34 Meja komputer 1 2. Alat habis Pakai a. NGT b. Handscoon c. Spuit d. Urine bag e. Infuse set f. Nasal Canul Oksigen g. Cairan Infuse : DS %, RL, kaEN 3B, martos, Tutofusin, Tridex 2A, Tridex 2B h. Alkohol i. Betadine j. Kapas k. Kasa l. Plester atau Hypafix H. Sumber a. Sumber daya manusia 1. Tenaga Perawat Tenaga keperawatan di ruang Rajawali RSUD Dr. M. Ashari Pemalang berjumlah 14 orang dengan latar belakang sarjana Keperawatan 7, D3 keperawatan 7 orang dan tenaga non perawat ada 3 orang. 2. Status Keperawatan a. PNS : 13 orang b. CPNS : - c. THK : 1 orang 3. Tenaga Non Perawat a. Pramu Ruang (POS) : 3 b. Ketenagaan Perawat Tidak ada klasifikasi pasien dan ketergantungan jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan. Berdasarkan analisa jabatan, jadwal dinas yang terbagi menjadi 3 shift, yaitu : Pagi (rata-rata 4-6 perawat dengan Karu), siang 3 perawat, malam 3 perawat. Pengkajian pada tanggal 22-24 November 2011 : - Jumlah perawat : 14 - Jumlah tempat tidur : 14 - Jumlah pasien : SC PC TC I 8 2 25% 3 37,5% 3 37,5% II 8 1 12,5% 3 37,5% 4 50% III 7 1 14,2% 2 28% 4 57% Jumlah 51,7% 3 = 17% 103% 3 = 35% 144,5% 3 = 48% Rata-rata pasien per hari 14 x 17% SC = 2,38 2 orang 14 x 35% PC = 4,95 5 orang 14 x 48 % TC = 6,72 7 orang Jumlah pasien Klasifikasi pasien Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam Pagi Siang Malam 1 0,17 0,14 0,10 0,27 0,15 0,07 0,36 0,30 0,20 2 0,34 0,28 0,20 0,54 0,30 0,14 0,72 0,60 0,40 3 0,51 0,42 0,30 0,81 045 0,21 1,08 0,90 0,60 SC P : 2 x 0,17 = 0,34 S : 2 x 0,14 = 0,28 M : 2 x 0,10 = 0,20 0,82 = 1 orang PC P : 5 x 0,27 =1,35 S : 5 x 0,15 = 0,75 M : 5 x 0,07 = 0,35 2,45 = 3 orang TC P : 7 x 0,36 = 2,52 S : 7 x 0,30 = 2,1 M : 7 x 0,20 = 1,4 6,02 = 6 orang Jadi jumlah total perawat yang dibutuhkan adalah 1 + 3 + 6 = 10 orang Untuk antisipasi perawat libur 10 + 20% = 12 orang Jadi perawat yang di butuhkan di ruang rajawali sebanyak 12 orang Berdasarkan perhitungan dengan formulasi Gillis untuk rumah sakit di indonesia, jumlah tenaga keperawatan di ruang VIP sebanyak 12 perawat, jadi jumlah perawat di ruang VIP sudah cukup. b. Sumber data - Sumber Data Primer Observasi dan wawancara langsung dengan perawat diruang Rajawali - Sumber Data Sekunder Dari laporan / dokumentasi 2. Planing - Visi dan Misi RSUD Dr. M. Ashari Pemalang a. Visi Menjadi RS yang mampu memberikan Pelayanan prima didukung oleh SDM yang profesional dan sejahtera, sarana dan prasarana memadai serta manajemen yang bermutu tinggi dan dapat dipertanggung jawabkan. b. Misi 1. Meningkatkan profesional SDM 2. Meningkatkan kesejahteraan SDM 3. Mengembangkan manajemen pelayanan rumah sakit 4. Mengembangkan sarana dan prasarana 5. Memebrikan pelayanan prima yang terjangkau dan didukung jejaring pelayanan kesehatan - Visi dan misi ruang Rajawali RSUD Dr. M. Ashari Pemalang VISI Terwujudnya perawatan yang profesional dan bermutu di Ruang Rajawali. MISI 1. Memberikan asuhan keperawatan dengan pelayanan prima. 2. Menciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien dan petugas. 3. Meningkatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan melalui pengembangan staf. - Standar asuhan keperawatan Di ruang Rajawali RSUD Dr. M. Ashari Pemalang sudah memiliki standar asuhan keperawatan terbitan tahun 2002. - Standar Operasional Diruang Rajawali RSUD Dr. M. Ashari Pemalang sudah memiliki standar operasional untuk setiap tindakan yang dilakukan, terbitan edisi II tahun 2002. - Budget Sumber dana sebagian besar bersumber dari pemerintah Kabupaten Pemalang, apotek yang bekerja sama dengan ruangan dan dari pasien. - Motto Motto diruang Rajawali RSUD Dr. M. Ashari Pemalang sudah ada yaitu ramah, tanggap, cepat dan tepat, tetapi belum dipasang. 3. Pengorganisasian - Struktur Organisasi Di ruang VIP sudah ada struktur organisasi, tetapi belum di tempel nama anggotanya. STRUKTUR ORGANISASI INSTALASI RAWAT INAP RSUD. Dr. M ASHARI PEMALANG SK. DIREKTUR NO. 445 / 1108 / 2011 - Job Diskription Di ruangan Rajawali sebenarnya sudah ada pembagian tugas dari kepala ruang, katim dan perawat asosiate namun dalam pelaksanaannya belum optimal hal ini disebabkan oleh manajemen keperawatan yang belum berjalan dengan baik sehingga kadang – kadang dalam pelaksanaannya katim merangkap sebagai perawat asosiate. - Metode penugasan yang dilakukan diruangan rajawali adalah model MPKP tingkat pemula atau TIM namun dalam pelaksanaannya belum bisa optimal atau masih melakukan modifikasi dengan metode fungsional, hal ini disebabkan karena adanya keterbatasan dalam jumlah tenaga sehingga masih banyak terjadinya peran ganda serta kurangnya pemahaman terhadap model keperawatan yang digunakan. - Dokumentasi proses keperawatan sudah dilakukan namun dalam pelaksanaannya belum optimal karena pendokumentasian lebih banyak implementasi yang dicantumkan tetapi dalam intervensi tidak dibuat. 4. Actuating - Pengembangan staff Dalam pengembangan staff, kepala ruang memberikan kesempatan pada anggotanya untuk melanjutkan pendidikan, mengikuti pelatihan dan seminar yang diadakan rumah sakit - Motivasi Pemberian motivasi di ruang Rajawali dengan saling memotivasi antar teman sejawat. - Jadwal Jadwal dinas dibagi menjadi 3 shift yaitu shift pagi rata-rata 4 – 5 perawat dan 1 kepala ruang, sore 3 perawat, malam 3 perawat. - Delegasi Dalam melakukan suatu pendelegasian di ruangan rajawali sudah dilakukan dengan baik atau sudah ada suatu prosedur yang ada yaitu secara lisan dan tulisan, misalnya karu mendelegasikan kepada katim maka karu harus bilang pada katim yang dipasrahi kemudian menandatanganinya, katim yang dipasrahi juga harus menandatangani dengan persetujuan kasie keperawatan. - Pendelegasian Sistem pendokumentasian yang ada di ruang Rajawali berorienatsi dari berbagai sumber tenaga kesehatan yaitu pendokumentasian asuhan keperawatan, terapi yang diberikan oleh dokter, hasil labolatorium klien, tindakan rehabilitasi misal fisioterapi dan jadwal pemberian terapi. - Pengambilan Keputusan Pengambilan keputusan dilakukan dengan cara musyawarah mufakat untuk mencapai suatu tujuan. - Timbang Terima Timbang terima selama ini dilakukan setiap pergantian perawat jaga. Hal yang ditimbang terima yaitu asuhan keperawatan dari setiap pasien yang meliputi : identitas pasien, diagnosis medis, keadaan umum, terapi yang sudah dilakukan, rencana tindak lanjut. - Supervisi Pengawas Jaga Sudah adanya supervisi pengawas jaga tiap hari, meliputi menanyakan jumlah perawat dan jumlah pasien yang dirawat di ruang Rajawali, keadaan klien dan memeriksa asuhan keperawatan. 5. Controling a. Evaluasi 1) Evaluasi kepuasan pasien Ada angket kepuasan dari ruangan, namun belum dilaksanakan secara optimal karena evaluasi di berikan kepada pasien yang dirawat lebih dari 3 hari. Hasil kuesioner kepuasan pasien yang di berikan oleh mahasiswa di dapatkan hasil dari 5 pasien pada tanggal 24 November 2011 adalah 90% pasien puas. 2) Evaluasi kepuasan perawat Di ruang Rajawali belum ada instrumen untuk mengevaluasi kepuasan perawat. Hasil kuesioner tingkat kepuasan perawat mendapatkan persentase sebesar 73,86 %. b. Quality Kontrol Quality control yang ada di ruang rajawali dengan melakukan pemasangan infus dan ganti balut pada pasien setiap hari, dan proses pelaksanaannya sudah sesuai dengan standar yang ada. Hal ini bisa dilihat dari hasil observasi pada proses pemasangan infus dan ganti balut dengan nilai 90 %. c. Sistem Informasi Informasi mendesak dikomunikasikan langsung pada yang bersangkutan melalui pengumuman atau lewat telpon. Informasi tidak mendesak dikomunikasikan secara lisan / pesan. d. Hubungan dengan teman sejawat Konflik antar teman sejawat diminimalkan dengan bimbingan kepala ruang pada saat pre confrence dan post confrence. e. Audit Klien Sudah dilakukan yaitu ditulis pada sebuah buku keluar masuk pasien. BAB IV ANALISA DATA 1. Perencanaan a. Visi dan Misi Hasil pengkajian melalui kuesioner 100 % perawat Rajawali mengatakan tahu visi dan misi RSUD Dr. M. Ashari. Dari hasil observasi dan wawancara dengan kepala ruang visi dan misi ruangan ada tetapi belum terpasang. Hasil pengkajian melalui kuesioner 100 % perawat mengatakan ruangan Rajawali memiliki visi dan misi. - Visi dan misi ruang Rajawali RSUD Dr. M. Ashari Pemalang VISI Terwujudnya perawatan yang profesional dan bermutu di Ruang Rajawali. MISI 1. Memberikan asuhan keperawatan dengan pelayanan prima. 2. Menciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien dan petugas. 3. Meningkatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan melalui pengembangan staf. b. Tenaga Hasil wawancara diperoleh data jumlah tenaga di ruang Rajawali sebanyak 17 orang, dengan tenaga keperawatan 14 dan 3 tenaga non keperawatan, dilihat dari tingkat pendidikan didapatkan 7 orang sarjana keperawatan, 7 orang D3 keperawatan dan 2 orang SMA, 1 orang SMP. Menurut perhitungan Gillies perhitungan ketenagaan sudah cukup, tetapi dalam kenyataan masih kurang, karena kendala pada sistem penjadwalan. 2. Pengorganisasian a. Struktur Organisasi Ruang Rajawali Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruang RSUD Dr. M. Ashari Pemalang, didapatkan sudah ada struktur organisasi, dari hasil observasi diruang Rajawali sudah ada struktur organisasi tetapi masih belum dilengkapi nama petugasnya. STRUKTUR ORGANISASI INSTALASI RAWAT INAP RSUD. Dr. M ASHARI PEMALANG SK. DIREKTUR NO. 445 / 1108 / 2011 b. Sistem Penugasan Berdasarkan hasil pengkajian melalui kuesioner dari 12 perawat mengatakan metode penugasan yang dilakukan adalah metode TIM. Dari hasil wawancara kepada Kepala ruang Rajawali RSUD Dr. M. Ashari Pemalang metode penugasan sudah dilakukan di ruang Rajawali, tetapi dalam pelaksanaannya masih modifikasi antara metode TIM dengan fungsional, karena dengan jumlah perawat dan penyusunan jadwal yang sekarang masih belum mampu malakukan metode TIM murni. c. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Dari hasil pengkajian melalui kuesioner 12 perawat ruang Rajawali mengatakan ada SAK diruang Rajawali yang berisikan 11 besar penyakit yang ada di ruangan antara lain Askep Tuberculosis Paru, Febris Typoid, Gastroentritis, Gastritis, Hypertensi, Bronchitis Kronis, Asthma Bronchiale, Diabetes Mellitus, Syndrome Nefrotik, Gagal Ginjal Kronik, Cirrhosis Hepatis, dan dari 12 perawat mengatakan ada SOP diruang Rajawali. Dari hasil observasi dan wawancara kepala ruang SOP dan SAK mengacu pada yang terdahulu yaitu terbitan tahun 2002. Sehingga SAK perlu diperbaharui lagi. 3. Pengelolaan Aktif a. Pembagian Berdasarkan hasil pengkajian melalui kuesioner kepada 12 perawat: mengatakan ada pembagian tugas. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruang didapatkan dalam pelaksanaan askep ada pembagian tugas. Uraian pembagian tugas sebagai berikut : a) Kepala ruang 1) Menetapkan standart kinerja staff. 2) Membantu staff dalam menetapkan sasaran kepada unitnya 3) Memberi kesempatan, membantu katim dalam proses kepemimpinan. 4) Menjadi nara sumber bagi katim dan staf 5) Melakukan supervisi dan memberikan motivasi seluruh sraff keperawatan untuk mencapai kinerja yang optimal. 6) Melakukan upaya mutu asuhan keperawatan dengan melakukan pengeevaluasian kepuasan pasien. 7) Mendelegasikan tugas dan tanggung jawab kepada katim pada shift sore dan malam. b) Ketua tim 1) Mengkaji setiap pasien dan menerapkan tindakan keperawatan yang tepat. 2) Mengkoordinasikan rencana keperawatan kepada perawat asosiate. 3) Membimbing perawat asosiate yang mengalami kesulitan 4) Membuat rencana asuhan keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan. 5) Membagi tugas kepada perawat asosiate sesuai dengan kebutuhan pasien 6) Mengupayakan lingkungan yang kondusif dan hubungan kerja yang harmonis kepada semua perawat asosiate. c) Perawat asosiate atau perawat pelaksana 1) Memberikan asuhan keperawatan secara langsung sesuai dengan rencana keperawatan dan program dokter berdasarkan rencana keperawatan yang telah ditetapkan 2) Melaporkan secara cepat dan akuran tentang keadaan klien. 3) Memperhatikan kebutuhan pasien yang diperlukan. 4) Mengusahakan dan memelihara hubungan yang harmonis untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 5) Bertanggung jawab terhadap semua keadaan klien sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Berdasarkan hasil observasi dan kuesioner : dalam pelaksanaan askep ada pembagian tugas diruang Rajawali. b. Pelatihan Dari hasil pengkajian melalui kuesioner didapatkan 92,85 % mengatakan pernah mendapatkan pelatihan yang berkaitan dengan keperawatan 7,15 % mengatakan belum pernah mendapat pelatihan. Dan dari hasil wawancara dengan kepala ruang setiap ada pelatihan ada salah satu dari perawat ruangan di ikut sertakan namun secara bergantian dan dengan cara ditunjuk. Pelatihan yang pernah diikuti perawat di ruangan rajawali antara lain sebagai berikut : NO NAMA JENIS PELATIHAN 1 LISNARTI, S.Kep • PPGD • VENA SECTIE • EKG • CLINICAL INSTRUKTUR • BBLR • STROKE • MANAJEMEN KEPALA BANGSAL 2 RETNO ANGGRAENI, S.Kep • PPGD • VENA SECTIE • WOND CARE 3 SUGIHARTI, S.Kep • PPDG • VENA SECTIE • BCLS 4 DIEAH YULIASARI, S.Kep • PPGD • VENA SECTIE • WOND CARE 5 CICIK SETIANA, AMK • VENA SECTIE • BCLS 6 WIDYANINGRUM, S.Kep • PPGD • PENINGKATAN CARING PERAWAT DAN BIDAN 7 INDAH HIKMAWATI, S.Kep • PPGD • VENA SECTIE • CLINICAL INSTRUKTUR • BBLR 8 ELISABET NUR W, AMK • PPGD • PEINGKATAN CARING PERAWAT DAN BIDAN 9 SRI HARTATI, AMK • VENA SECTIE • BCLS 10 MASRUROH, AMK • PPGD • UMBILICAL 11 INAYAH A, AMK • PENANGGULANGAN BENCANA 12 DEWI PUJIATI, S.Kep • PPGD • UMBILICAL • WOND CARE 13 NITA PRATIWI, AMK • BCLS • VENA SECTIE 14 DARWATI, AMK Berdasarkarkan hasil data di atas bahwa semua perawat di ruang rajawali belum mendapatkan pelatihan tentang MPKP. c. Reward dan Punishment (Teguran) 1. Reward Berdasarkan hasil observasi melalui kuesioner didapatkan 100 % mengatakan ada reward. Dari hasil wawancara dengan kepala ruang ada reward yang diberikan atas keberhasilan kerja, yaitu berupa reinforcement positif dan kebijakan-kebijakan yang diberikan oleh kepala ruang antara lain bila ada perawat yang ijin tidak masuk karena sakit atau ada keluarga yang sakit maka di berikan toleransi ijin tanpa ada pemotongan JP. 2. Punishment Berdasarkan hasil pengkajian kuesioner sebanyak 12 perawat mengatakan ada sanksi jika melakukan kesalahan, karena berdasarkan observasi perawat di ruang Rajawali ada sanksi jika melanggar atau melakukan kesalahan misalnya terlambat datang kerja lebih dari toleransi yang disepakati ruangan yaitu 30 menit, sanksi yang diberikan pertama berupa teguran. 3. Pengkoordinasi Berdasarkan dari hasil pembagian kuesioner kepada 12 perawat mengatakan ada pertemuan rutin diruang Rajawali RSUD Dr. M. Ashari yang diadakan setiap bulan (12 x selama 1 tahun). 4. Pelaporan Dari hasil observasi dan wawancara dengan kepala ruang didapatkan data ada buku laporan, buku catatan vital sign harian a. Buku pembelian obat harian b. Buku resep c. Buku permintaan rontgen d. Buku permintaan laborat e. Buku penerimaan obat dari pasien f. Buku pernyataan pulang paksa g. Buku laporan harian pasien h. Buku catatan diet i. Buku register j. Buku inventaris alat tenun k. Dokumentasi askep 1. Pengkajian 2. Diagnosa keperawatan 3. Perencanaan 4. Pelaksanaan tindakan 5. Evaluasi 6. Catatan perkembangan 5. Kepuasan pasien terhadap perawat Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan didapatkan dari 5 klien, yang dibagikan kuesioner seluruhnya 90% menyatakan puas terhadap pelayanan diruang Rajawali 10% menyatakan cukup pada pelayanan di ruang Rajawali. 6. Kendali mutu Berdasarkan observasi yang dilakukan di ruang Rajawali, sudah ada instrument evaluasi kepuasan pasien dan pelayanan perawat tetapi diberikan oleh perawat kepada pasien yang dirawat lebih dari 3 hari, serta ada form pesan keperawatan untuk pasien pulang form ini diberikan setiap pasien pulang. Di ruang rajawali belum ada kotak kritik dan saran untuk pasien secara umum tentang pelayanan di ruangan. 7. Timbang terima Berdasarkan hasil wawancara kepada kepala ruang didapatkan keterangan bahwa timbang terima sudah dilaksanakan. Berdasarkan observasi didapatkan bahwa isi materi timbang terima sudah berfokus pada masalah keperawatan yang ada. 4. Analisa SWOT Menurut Azwar 1996, analisis SWOT adalah kajian yang dilakukan terhadap suatu organisasi yang sedemikian rupa sehingga diperoleh keterangan akurat tentang berbagai faktor kekuatan, kelemahan, kesempatan, serta hambatan atau ancaman yang dimiliki dan atau dihadapi oleh organisasi. dengan analisis ini akan diketahui dengan jelas berbagai persiapan yang perlu dilakukan sehingga perencanaan yang akan dibuat dapat lebih realistis.  Ketenagaan • S (Strenght) atau kekuatan 1. Di R. VIP Rajawali terdapat 14 tenaga perawat, pendidikan S1 berjumlah 7 orang dan DIII berjumlah 7 orang. 2. Di R. VIP terdapat 3 orang POS. 3. Ada program rutin dari rumah sakit untuk pengembangan SDM perawat. 4. Berdasarkan perhitungan jumlah tenaga keperawatan dengan formulasi Gillies untuk rumah sakit di Indonesia, jumlah tenaga keperawatan di ruang VIP sudah cukup. 5. Adanya kebijakan Direktur rumah sakit dalam perekrutan tenaga. 6. Ada sistem reward atau penghargaan terhadap perawat yang di ruang VIP. • W (Weakness) atau kelemahan 1. Pembagian dan pelaksanaan job diskription yang belum optimal. • O (Opportunity) atau kesempatan 1. Adanya kebijakan dari rumah sakit mengikutsertakan perawat untuk mengikuti pelatihan guna peningkatan SDM. 2. Adanya mahasiswa PSIK yang praktik manajemen keperawatan. 3. Adanya pelatihan yang diadakan oleh rumah sakit. 4. Adanya kebijakan dari kepala bidang keperawatan dalam pengaturan jumlah tenaga di setiap ruang / bagian bangsal keperawatan. • T (Threatened) atau ancaman 1. Adanya ruang rawat inap lain yang ada di RSUD Dr. M. Ashari Pemalang 2. Adanya rumah sakit lain di Kabupaten Pemalang antara lain : RS Santa Maria, RSI, dan RS Siaga Medica.  Metode Penugasan • S (Strenght) atau kekuatan 1. Adanya kemauan untuk lebih maju. 2. Adanya sistem pengembangan staf dalam bentuk pelatihan, seminar, sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. 3. Adanya metode tim • W (Weakness) atau kelemahan 1. Pelaksanaan metode tim yang belum optimal. 2. Struktur organisasi belum dilaksanakan secara optimal. 3. Sudah ada program supervisi sebulan dua kali tetapi pelaksanaannya belum optimal. • O (Opportunity) atau kesempatan 1. Adanya kebijakan dari kepala bidang keperawatan dalam pengaturan jumlah tenaga di setiap ruang / bagian bangsal keperawatan. 2. Adanya program pelatihan dan seminar. • T (Threatened) atau ancaman 1. Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang lebih profesional. 2. Adanya pasar bebas, sehingga tertuntut untuk bersaing.  Kendali Mutu • S (Strenght) atau kekuatan 1. Rumah sakit terakreditasi C. 2. Jumlah tenaga keperawatan 14 orang. 3. Adanya instrumen kritik dan saran kepuasan pasien. 4. Adanya instrument kritik saran untuk perawat. • W (Weakness) atau kelamahan 1. Kotak kritik dan saran belum difungsikan secara optimal. 2. Belum terdapat kotak kritik dan saran di ruang VIP. • O (Opportunity) atau kesempatan 1. Adanya mahasiswa PSIK yang praktek manajemen keperawatan. 2. Adanya kotak kritik dan saran rumah sakit. • T (Threatened) atau ancaman 1. Adanya tuntutan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang profesional 2. Adanya persaingan antar rumah sakit.  Dokumentasi Keperawatan • S (Strenght) atau kekuatan 1. Tersedianya sarana dan prasarana untuk pasien dan tenaga kesehatan 2. Kepala ruangan mendukung kegiatan. 3. Terdapat administrasi penunjang. 4. Terdapat format pengkajian umum dari ruangan. 5. Adanya kemauan perawat untuk berubah dan mencapai hasil yang lebih baik. • W (Weakness) atau kelemahan 1. Pendokumentasian proses keperawatan yang belum optimal. 2. Belum ada format pengkajian khusus berdasarkan spesifikasi kasus / penyakit klien. • O (Opportunity) atau kesempatan 1. Adanya program pelatihan dan seminar khusus. 2. Adanya mahasiswa S1 Keperawatan yang melakukan praktek. 3. Adanya kerja sama yang baik antara mahasiswa keperawatan dan keperawatan klinik. • T (Threatened) atau ancaman 1. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang tanggung jawab dan tanggung gugat. 5. Identifikasi Masalah Manajemen Keperawatan Di Ruang VIP (Rajawali) Dari hasil pengkajian, data-data tentang manajemen di ruang VIP diidentifikasi untuk merumuskan masalah manajemen yaitu sebagai berikut : No Data Fokus Masalah 1. Dari hasil wawancara dengan KARU : - KARU mengatakan sudah ada visi, misi, motto dan struktur organisasi tetapi belum dipasang di ruang VIP - KARU mengatakan ruang VIP menggunakan metode tim, dibagi menjadi dua yaitu Tim A dan Tim B. Katim A membawahi 6 anggota, dan Katim B membawahi 5 anggota Hasil Observasi - Kegiatan pelayanan keperawatan sudah menggambarkan suatu metode TIM tetapi belum optimal - Ketua TIM belum mengetahui tugasnya sebagai KATIM secara optimal, karena belum ada uraian tugas KATIM di ruangan. - Ketua TIM belum menjalankan tugasnya secara optimal. - Dalam melakukan timbang terima sudah jelas antara petugas yang mengoperkan yang menerima operan. - Substansi / isi timbang terima kurang berfokus terhadap permasalahan keperawatan yang dialami pasien. Isi timbang terima hanya menanyakan keluhan klien, diagnosa medis dan program yang sudah dan akan dilakukan. Pelaksanaan metode Tim belum optimal 2. Hasil Observasi - pendokumentasian dilakukan oleh perawat yang sedang tidak bekerja yang seharusnya perawat pelaksana. - yang didokumentasikan hanya program terapi dan keadaan umum klien - Ada SAK dan SOP yang masih mengacu pada yang terdahulu yaitu tahun 2002. - Dalam pendokumentasian ada diagnosa keperawatan, intervensi, tetapi implementasi yang dilaksanakan melebihi intervensi yang dibuat. - Penulisan evaluasi Askep buku laporan keperawatan tidak memuat SOAP keperawatan. Pendokumentasian asuhan keperawatan yang belum optimal 3. Hasil wawancara dengan KARU - Ada pemberian reward dalam bentuk pujian, kebijakan yang diberikan karu. - Pengadaan alat-alat kesehatan harus melewati birokrasi yang panjang dan dilakukan permohonan pengadaan alat dilakukan rutin pertahun. Hasil Observasi - Tidak terdapat denah ruangan dan pada saat pasien datang pertama kali tidak diorientasikan denah ruangan - Terdapat peraturan ruangan yang ditempel di dinding setiap ruang pasien - Tidak ada kotak saran di ruangan Hasil tabulasi kuesioner - Dari 5 responden 90% kepuasan pasien dalam kategori puas. Peningkatan tingkat pelayanan mutu ruangan yang belum optimal. Dari hasil identifikasi masalah diatas, maka masalah-masalah manajemen keperawatan di ruang VIP dapat dirumuskan adalah sebagai berikut : 1. Pelaksanaan metode tim belum optimal. 2. Pendokumentasian asuhan keperawatan yang belum optimal. 3. Peningkatan tingkat pelayanan mutu ruangan yang belum optimal. 6. Prioritas Masalah Keperawatan Dari masalah-masalah yang berhasil diidentifikasi, kemudian diprioritaskan menggunakan criteria penilaian untuk menentukan masalah utama yang akan diselesaikan dan diklasifikasi dengan pihak ruangan dan sub.bid keperawatan RSUD Dr. M. Ashari Pemalang No Masalah Keefektifan Jumlah Prioritas Mg Sv Mn Nc Ar 1 Pelaksanaan metode Tim belum optimal 4 3 4 4 2 17 I 2 Pendokumentasian asuhan keperawatan yang belum optimal 4 3 3 3 2 15 II 3 Peningkatan pelayanan mutu ruangan yang belum optimal. 3 4 3 2 2 14 III Keterangan : Magnitude (Mg) : Kecenderungan besar dan seringnya masalah tersebut Severity (Sv) : Besar kerugian yang timbul Manage Ability (Mn) : Bisa dipecahkan atau diselesaikan Nursing Consent (Nc) : Perhatian bidang keperawatan Affordability (Af) : Ketersediaan sumber daya Skala yang digunakan dalam rentang nilai 1-5  Prioritas Masalah 1. Pelaksanaan metode Tim belum optimal. 2. Pendokumentasian asuhan keperawatan yang belum optimal. 3. Peningkatan pelayanan mutu ruangan yang belum optimal. Gambar 1. Pelaksanaan metode TIM yang belum optimal Gambar 2. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan yang belum optimal Gambar 3. Peningkatan pelayanan mutu ruangan yang belum optimal I. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH 1. Alternatif pemecahan masalah pelaksanaan metode Tim belum optimal di ruang VIP No Penyebab Masalah Rencana Penyelesaian Masalah 1. Pemahaman perawat tentang penerapan model keperawatan dengan metode TIM belum optimal Sosialisasi sistem pengorganisasian manajemen keperawatan dengan metode TIM 2. Adanya struktur organisasi di ruangan tetapi belum dipasang Penyusunan Struktur Organisasi 3. Terjadi tumpang tindih peran, sehingga model keperawatan yang digunakan kurang jelas Mendemonstrasikan tentang model keperawatan TIM 4. Pelaksanaan timbang terima kurang berfokus terhadap permasalahan keperawatan Sosialisasi tentang Timbang terima / operan yang berfokus pada masalah keperawatan 5. Model keperawatan TIM belum optimal Diskusikan bentuk model keperawatan yang sesuai dengan ruangan 2. Alternatif pemecahan masalah pendokumentasian asuhan keperawatan yang belum optimal di ruang VIP Tabel alternatif pemecahan masalah pendokumentasian asuhan keperawatan yang belum optimal di ruang VIP No Penyebab Masalah Rencana Penyelesaian Masalah 1. Pemahaman tentang pentingnya asuhan keperawatan masih kurang Sosialisasi tentang pendokumentasian asuhan keperawata yang lengkap 2. Budaya perawat untuk pendokumentasian keperawatan masih kurang Mengusulkan kepada kepala ruang untuk mengevaluasi pendokumentasian asuhan keperawatan 3. Pemahaman tentang SAK masih kurang Sosialisasi tentang SAK 4. Motivasi perawat untuk mengisi dokumentasi asuhan keperawatan secara lengkap masih kurang Mengusulkan kepada kepala ruang dan staf untuk memotivasi perawat dalam mengisi pendokumentasian asuhan keperawatan secara lengkap dan membuat uraian tugas perawat. 6. Belum dibentuknya TIM pengawas pendokumentasian asuhan keperawatan. Mengusulkan adanya supervisi dari Kasie Keperawatan dalam mendokumentasikan asuhan keperawatan. 3. Alternatif pemecahan masalah peningkatan pelayanan mutu ruangan yang belum optimal di ruang VIP. No Penyebab Masalah Rencana Penyelesaian Masalah 1. Belum adanya kotak saran untuk pasien terhadap pelayanan keperawatan Pembuatan kotak saran 2. Perawat lebih mengutamakan terapi medis. Menyarankan kepada perawat untuk carring. 3. Denah ruangan belum ada Pembuatan denah ruang VIP II. INTERVENSI Setelah disusun prioritas masalah, penyebab masalah dan alternatif pemecahan masalah, mahasiswa bersama pihak ruangan menentukan intervensi yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah di ruang VIP. Hasil dari diskusi adalah sebagai berikut : Masalah Intervensi Pelaksanaan tugas Pelaksanaan metode Tim belum optimal 1. Diskusi bentuk model keperawatan yang sesuai dengan ruangan 2. Sosialisasi sistem pengorganisasian manajemen keperawatan dengan metode TIM 3. Penyusunan Struktur Organisasi 4. Demonstrasi model TIM 5. Sosialisasi tentang timbang terima / operan yang berfokus pada masalah keperawatan Pendokumentasian Pendokumentasian asuahan keperawatan yang belum optimal 1. Penyusunan Standar Asuhan Keperawatan (SAK) yang baru. 2. Pembuatan uraian tugas 3. Sosialisasi tentang SAK 4. Evaluasi terhadap sistem pendokumentasian asuhan keperawatan Peningkatan pelayanan mutu ruangan Tingkat pelayanan mutu yang perlu ditingkatkan. 1. Pemasangan visi, misi dan motto ruangan 2. Pembuatan denah ruang VIP 3. Pembuatan kotak saran PLANNING OF ACTION (POA) No Kegiatan Tujuan Metode Sasaran Waktu Tempat Penanggung jawab 1. Mensosialisasikan SAP di ruang VIP Perawat ruang VIP mengetahui dan memahami keperawatan model TIM dalam penerapan MPKP Ceramah dan diskusi - Karu - Perawat ruang VIP Kamis, 15 Desember 2011 Ruang VIP Karu 2. SAP Perawat ruang VIP dapat mengetahui langkah-langkah timbang terima yang benar Ceramah diskusi - Karu - Perawat ruang VIP Kamis, 15 Desember 2011 Ruang VIP Karu 3. Membuat struktur organisasi, bagan dan uraian tugas metode TIM Perawat ruang VIP mengetahui dan memahami tugas-tugas dan tanggung jawabnya serta dapat menerapkannya dalam memberikan pelayanan kesehatan Diskusi Sharing Curah pendapat - Karu - Perawat ruang VIP Kamis, 15 Desember 2011 Ruang VIP Karu 4. Menempel visi, misi dan motto ruang VIP dan mensosialisasikannya Perawat ruang VIP mengetahui dan memahami visi, misi dan motto ruang VIP sehingga menjadi motivasi dan acuan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Diskusi Sharing Curah pendapat - Karu - Perawat ruang VIP Jumat, 16 Desember 2011 Ruang VIP Karu 5. Melakukan role play / menjadi role model keperawatan model Tim di ruang VIP Perawat ruang VIP bisa mengoptimalkan keperawatan model Tim Demonstrasi - Karu - Perawat ruang VIP Kamis, 15 Desember 2011 Ruang VIP Karu 6. Menjadi role model timbang terima yang terfokus pada masalah keperawatan Perawat ruang VIP dapat menerapkan langkah-langkah timbang terima yang benar yang terfokus pada masalah keperawatan. Demonstrasi - Karu - Perawat ruang VIP Kamis, 15 Desember 2011 Ruang VIP Karu BAB V PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas hasil praktek manajemen keperawatan di ruang Rajawali (VIP) RSUD Dr. M. Ashari Pemalang yang dilaksanakan mulai tanggal 20 November sampai 17 Desember 2011. Kegiatan manajemen keperawatan yang dilakukan dimulai dari pre planning, pengkajian, penyusunan POA, implementasi dan evaluasi. A. Tahap Pre Planning Tahap ini dimulai dari orientasi yang dilakukan tanggal 20 November 2011. Orientasi ruangan dilakukan bersama kepala ruang dan KASUBID Keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasikan keadaan ruangan secara visual kepada mahasiswa. Selanjutnya pada tahap ini mahasiswa berdiskusi untuk menyusun instrument pengkajian yang meliputi pedoman wawancara, pedoman observasi/ survey dan kuesioner. Penyusunan instrument tersebut berdasarkan literature. B. Tahap Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan kuesioner yang telah disusun pedomannya pada tahap pre planning. Pengkajian dilaksanakan pada tanggal 21-30 November 2011 yang menghasilkan data sebagai berikut: 1. Hasil observasi a. Kegiatan pelayanan keperawatan sudah menggunakan metode tim b. Substansi/ isi timbang terima berfokus terhadap permasalahan keperawatan yang dialami pasien. Isi timbang terima menanyakan keluhan klien, diagnosa medis dan program yang sudah dan akan dilakukan. c. Penulisan buku laporan keperawatan tidak semua memuat SOAP keperawatan . d. Tidak terdapat denah ruangan dan pada saat pasien datang pertama kali tidak diorientasikan denah ruangannya. e. Terdapat peraturan ruangan yang ditempel di dinding setiap ruang pasien. f. Tidak ada kotak saran di ruangan 2. Hasil wawancara a. Karu mengatakan sudah ada visi, misi, motto dan struktur organisasi di ruang VIP tetapi belum ditempel. b. Karu mengatakan di ruang VIP menggunakan metode tim yang dibagi menjadi 2 tim yaitu tim A dan tim B, setiap katim membawahi 5-6 anggota. c. Karu sudah membagi tugas masing-masing tim tetapi tidak ada uraian tugas yang jelas yang dituangkan dalam suatu prosedur tetap dan dalam pelaksanaannya kadang terjadi ketidaksesuaian tugas dalam tim. d. Karu mengatakan sudah ada dokumentasi 10 besar penyakit tetapi belum dibuat buku. e. Kasi keperawatan mengatakan untuk pengembangan sumber daya tenaga keperawatan, beberapa perawat diikutkan dalam pelatihan dan seminar yang kemudian menyampaikan pada perawat lain yang tidak mengikuti. 3. Hasil kuesioner Dari 5 responden (pasien) 90% kepuasan pasien dalam kategori puas. Dari hasil pengkajian tersebut maka diangkat masalah manajemen yaitu: 1. Pelaksanaan metode tim belum optimal 2. Pendokumentasian asuhan keperawatan yang belum optimal 3. Peningkatan pelayanan mutu ruangan yang belum optimal Kemudian dari ketiga masalah tersebut disusun rencana tindakan (POA) untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam menyusun POA tersebut didahului dengan memprioritaskan masalah-masalah tersebut sesuai dengan skor yang telah ditentukan berdasarkan besar atau seringnya masalah yang timbul, besarnya kerugian yang ditimbulkan, kemudahan untuk diselesaikan, perhatian dari bidang keperawatan dan ketersediaan sumber daya untuk masalah tersebut. Pemberian skor dilakukan oleh perawat ruangan dengan difasilitasi mahasiswa. Hasil dari prioritas masalahnya dan POA yang telah disusun adalah sebagai berikut: 1. Pelaksanaan metode tim belum optimal, dengan POA sebagai berikut: a. Desiminasi keperawatan metode tim di ruang VIP b. Memasang struktur organisasi di ruang VIP c. Melakukan role play model keperawatan metode tim di ruang VIP 2. Pendokumentasian asuhan keperawatan yang belum optimal a. Melakukan desiminasi SAK dan SOP 10 kasus besar di ruang VIP b. Membuat uraian tugas metode tim 3. Tingkat kepuasan pasien di ruang VIP yang masih tergolong dalam kategori c baik a. Memasang visi, misi dan motto di ruang VIP serta mensosialisasikannya b. Mengusulkan pembuatan kotak saran C. Tahap Implementasi Tahap implementasi dimulai dari tanggal 15 Desember 2011 dengan kegiatan sebagai berikut: 1. Tanggal 15 Desember 2011 diadakan desiminasi MPKP dengan metode tim yang dilakukan oleh mahasiswa kepada perawat ruangan. 2. Tanggal 15 Desember 2011 dilakukan sosialisasi struktur organisasi, visi, misi dan motto ruangan. 3. Tanggal 15 Desember 2011 diadakan role play MPKP dengan metode tim oleh mahasiswa. 4. Tanggal 16 Desember 2011 dilakukan pemasangan bagan struktur organisasi, visi, misi dan motto serta kotak saran di ruang VIP D. Tahap evaluasi Evaluasi dilaksanakan setiap pelaksanaan implementasi berakhir. Hasil evaluasi dari setiap Implementasi adalah sebagai berikut: 1. Dari hasil desiminasi MPKP dengan metode tim didapatkan hasil bahwa sebagian besar perawat mengerti tentang tanggung jawab, strategi penerapan metode tim dan struktur organisasinya. 2. Dari hasil sosialisasi SAK didapatkan hasil bahwa sebagian besar perawat mau menerapkan SAK yang telah disusun dalam melaksanakan asuhan keperawatan dan mau mendokumentasikannya sesuai SAK yang ada. 3. Visi, misi dan motto telah disusun dan telah disetujui oleh kepala ruang dan seluruh perawat ruang VIP BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Hasil dari praktek manajemen keperawatan di ruang VIP RSUD Dr. M. Ashari Pemalang sejak tanggal 20 November – 17 Desember 2011 yang dimulai dari tahap pengkajian sampai dengan evaluasi adalah sebagai berikut: 1. Setelah diadakan sosialisasi dan role play model MPKP dengan metode tim, perawat ruangan dapat mengoptimalkan pelaksanaan metode tim. 2. Setelah dilakukan sosialisasi tentang SAK dan SOP perawat dapat mengoptimalkan dalam mendokumentasikan askep. 3. Telah dipasang bagan struktur organisasi ruang VIP, telah dipasang visi, misi dan motto ruangan, telah ada kotak saran di ruangan. B. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat disarankan kepada ruangan sebagai berikut: 1. Diharapkan dilakukan evaluasi rutin terhadap pelaksanaan tugas dan model MPKP yang diterapkan di ruangan oleh kepala ruang. 2. Diharapkan dilakukan evaluasi terhadap pendokumentasian asuhan keperawatan yang sesuai dengan SAK yang sudah ada. 3. Diharapkan kepala ruang untuk memotivasi perawat untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan sesuai prosedur dengan diikuti system reward yang baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar